Tuesday, 17 October 2017

Keindahan Gunung Bromo Bikin Susah Move on

Gunung Bromo


Setelah menyelesaikan perjalanan dari Ranukumbolo klik disini kami bergabung dengan 5 peserta lainnya termasuk mba Sari temannya Deli. Ini kali keduanya saya ke Bromo sebelumnya di tahun 2013, waktu itu saya menikmati sunrise di pananjakan satu. Tapi kali ini kami akan menikmati sunrise di Seruni point atau pananjakan dua. Bromo adalah salah satu tempat yang ingin saya kunjungi lagi selain Labuan Bajo, Waerebo dan Toraja karena keindahannya yang bak lukisan alam tidak pernah bosan untuk dinikmati.

Minggu subuh kami sudah siap menuju gunung Bromo dengan jeep yang sudah disediakan oleh mas Galuh. Hebatnya kami bersembilan ditambah driver dan mas Dwi guidenya menggunakan satu jeep. Awalnya saya ragu apakah satu jeep bisa memuat semuanya dengan kondisi badan peserta yang lumayan besar besar hehehe... Menurut mas Galuh satu jeep muat semua karena sebelumnya dia pernah mencoba. Dan benar saja kami semua muat dalam satu jeep walaupun saya akhirnya duduk dibagian bawah belakang jeep bersama mas Dwi.


Welcome (foto credit : Deli)
Perjalanan dari desa Kunci menuju Seruni point memakan waktu 1 jam. Sudah terlihat jalanan menuju Seruni point ramai dan sedikit macet jadi jangan sampai kesiangan jika tidak mau kerepotan cari tempat parkir. Sedangkan bule - bule kebanyakan berjalan kaki dari hotel, salut sama mereka yang ngak kenal capek bahkan anak - anak pun berjalan kaki. Untuk sampai di Seruni point kami harus jalan sedikit menanjak bagi wisatawan yang tidak mau capek disana ada kuda yang bisa dinaikki sampai ujung aspal. Dari ujung aspal kami masih harus menaiki beberapa anak tangga lagi, treknya lumayan dibandingkan pananjakan satu.


Seruni point (foto credit : Deli)
Seruni point sudah dipadati oleh pengunjung yang akan menikmati sunrise, tampaknya saya akan sedikit kesulitan mendapatkan foto Bromo yang bagus disini. Disana kami melihat sebagian ada yang naik keatas kemungkinan diatas spotnya lebih bagus dan pengunjung tidak sepadat dibawah. Deli dan mba Sari langsung naik keatas, melihat trek keatas yang lumayan sulit saya sempat bertanya kepada mereka. 
" Del yakin mau naik keatas ?"
" Iya "
" Nanti turunnya PR banget loh, mba Sari nanti bisa turun gak ?"
" Dicoba dulu aja Jul ".
Saya duluan mengantri naik keatas batu, mereka berdua ada dibelakang saya. Pas giliran mba Sari mau naik keatas ternyata pantatnya tidak bisa naik karena terhalang oleh batu jadi susah naik. Lalu dia bilang " Jul kayanya gw disini aja deh soalnya gw gak bisa naik keatas ". Deli otomatis menemani mba Sari dibawah karena ngak enak, sedangkan saya dilema. Mau turun ngak enak sama pengunjung lain karena mereka sudah ngantri mau naik keatas masa saya turun. Tapi kalau saya keatas sendiri ngak enak kalau ngak ada teman. Akhirnya dengan rasa kesal saya naik keatas sendiri, bodo amat lah nanti diatas sok kenal aja sama orang lain. Dan untungnya saya bawa head lamp sendiri kalau tidak mungkin saya akan kesulitan jalannya.
Menanti sunrise
Diperjalanan saya bertemu dan berkenalan dengan beberapa orang dan kami jalan bersama ke atas. Setelah treking lebih dari 30 menit akhirnya kami sampai di Seruni point padahal beberapa kali kami sempat ragu mau turun karena puncaknya ngak nemu - nemu dan takut tidak kekejar melihat sunrise


Sunrise Bromo
Mau dari sudut mana pun tetap cantik
Cemoro lawang
Dan akhirnya kami sampai di puncak, saya langsung mencari tempat untuk bisa mengabadikan sambil menikmati keindahan sunrise Bromo. Beruntung saya memutuskan untuk naik keatas karena disini tidak terlalu ramai jadi saya bisa leluasa mengambil foto. Mau dari sudut mana pun gunung Bromo tetap cantik. Bahkan setelah sunrise pun gunung Bromo masih tetap cantik. Tampak jelas keindahan gunung Bromo yang bersebelahan dengan gunung batok dan terlihat gunung Semeru yang begitu gagah dibelakang.

Rasanya saya malas untuk beranjak dari tempat saya berdiri, kalau jaman sekarang bilangnya susah move on. Tidak diragukan lagi kalau keindahan gunung Bromo begitu memikat, bahkan keindahannya sudah terkenal sampai ke manca negara. Dua kali saya kesini tidak sedikit wisatawan manca negara yang datang. Jadi untuk teman - teman yang hendak ke gunung Bromo tapi tidak mau terlalu ramai oleh pengunjung boleh coba ke Seruni point lalu treking keatas.
Bonus view keren
Bromo bikin susah move on
Tak terasa kami sudah cukup lama berada diatas, si Mbak kenalan saya tadi mengajak saya untuk turun kebawah karena sudah mulai siang. Bahkan di perjalanan pulang pun mata kami dimanjakan dengan pemandangan yang indah. Beberapa kali kami berhenti untuk mengambil foto karena sayang untung dilewatkan begitu saja. Lumayan semua rasa letih jadi terbayarkan plus dapat bonus. 

Diparkiran saya bertemu dengan Deli, mba Sari dan 2 orang lainnya sedangkan mbak - mbak kakak adik yang berdua - dua masih belum turun, saya fikir karena saya keatas saya bakal jadi orang terakhir sampai diparkiran. Ternyata masih ada 2 orang mbak yang asik jalan santai diatas sambil beli oleh - oleh bunga edelweis tanpa memikirkan waktu dan yang lain padahal kami dibawah sudah lumayan cukup lama menunggu. Mas Dwi akhirnya menyusul keatas dan kekesalan kami tidak sampai disitu setelah mereka tiba diparkiran salah satu mbak nya ketinggalan jaket di atas. Terpaksa mas Dwi lari keatas untuk mencari jaketnya walaupun pada akhirnya jaketnya ngak ketemu. Begini lah kekurangan kalau ikut open trip kadang suka ketemu dengan orang - orang ngeselin yang seperti ini hehehe...